Rabu, 03 Oktober 2012

Latgabnas PRAMUKA UMY at University Of Brawijaya Malang East Java

Latihan Gabungan Pramuka Perguruan Tinggi Se-Indonesia (LATGABNAS), ya,,,sebuah even nasional Q Bersama Pramuka UMY Menuju UB Malang,,,,

Simak ceritanya ya sobat,,,,,,

sabtu, 15 September 2012

diawali dengan upacara pelepasan kontingen dari racana UMY berjumlah 6 orang, 3 Putra dan 3 putri. upacara pelepasan yang berlangsung hikmah di lepas Oleh WR 3, upacarapun berlangsung hikmat. ini dia moment sesudah upacara pelepasan kontingen Pramuka UMY.


next,,,,


Malam 15 september 2012 pukul 19.00


diantar dengan mobil kampus dan dilepas oleh pembina tercinta kak salahidin, kita menuju terminal giwangan jogja,,,, gujuk gujuk,,,,dompet gak ada, alamak,,,mana uang UKM di sana semua lagi, tewas dech Q,,,, spontan ikut si bapak sopir balik lagi ke kampus. di cari dan dicari ternyata dompet ketinggalan di fotocopyan, alamakkk,,,,,,ceroboh amat yak kak mimin ini.


balik lagi keterminal giwangan di anter temen, nyampe sana kakak kakak yang lain nunggu, lumayan lama nuanaggua mobil akhirnya pukul 22.00 dapat juga de3ch mobil bus Mira. naik dech,,,,ni dia expresi seneng kakak kakak pramuka:




 

Kamis, 30 Agustus 2012

Membangun Sukses Dari Hal Yang Kita Sukai

 

Alkisah ada seorang anak muda yang sangat menyukai boneka hingga ia belajar bagaimana menjadi ahli pembuat boneka. Sayangnya, anak muda ini sangat kikuk, dan guru serta murid-murid lainnya selalu berkata bahwa dia tidak punya kemampuan untuk membuat boneka, dan bahwa dia tidak akan pernah berhasil.

Meski demikian, anak muda ini tetap bisa menikmati sehingga ia tak henti-hentinya melatih diri agar berkembang. Walau sudah bekerja keras, mereka akan selalu menemukan kesalahan pada boneka-boneka buatan anak muda ini, dan akhirnya mereka pun mengeluarkan si anak muda dari pelatihan itu.

Tapi anak muda itu tidak menyerah begitu saja. Ia memutuskan sejak saat itu akan menghabiskan seluruh waktunya membuat satu jenis boneka. Dan setiap kali menemukan kekurangan pada bonekanya, ia akan membuangnya dan memulai lagi dari awal. Tahun demi tahun pun berlalu, dan dengan setiap percobaan baru, bonekanya menjadi sedikit lebih baik. Kini, bonekanya jauh lebih baik dari hasil karya teman-temannya. Meski begitu, si anak muda ini tetap melakukan perbaikan, mencari “kesempurnaan”. Hidup seperti itu membuat anak muda ini kurang mampu mampu mencari nafkah, dan banyak orang menertawakan kondisinya yang miskin.

Ketika usianya sudah semakin tua, karya bonekanya sangatlah indah. Begitu bagusnya hingga suatu hari setelah berpuluh-puluh tahun bekerja, ia menyelesaikan satu boneka, dan berkata, “Saya tidak melihat ada yang kurang. Kali ini hasilnya sempurna.” Dan, untuk pertama kalinya dari sekian tahun lamanya, alih-alih membuang boneka ini, ia malah menaruhnya di atas rak. Ia benar-benar merasa puas dan bahagia.

Dan sisa ceritanya menjadi sejarah.

Boneka yang sempurna itu menjadi hidup, mengalami ribuan petualangan, dan memberikan pria tua yang bernama Geppetto itu kebahagiaan yang jauh lebih besar daripada yang didapat pembuat boneka lainnya yang terkenal dari hasil-hasil karyanya.
Membangun sukses kita dari hal-hal yang kita sukai. Dengan ketekunan & semangat tinggi, serta terus berusaha memperbaiki, maka apapun yang dikerjakan akan membuat waktu dan talenta kita lebih bernilai.

 

sumber :http://iphincow.wordpress.com/2012/

 

Karakteristik Anak Usia Dini






Sebagai orang tua maupun pendidik (guru) dalam lembaga, anda selayaknya harus mengerti benar tentang anak didik. Anda di tuntut untuk mampu mengerti dan memahami karakter anak anda untuk memastikan tingkat atau jenjang yang sesuai bagi mereka. Terutama anak-anak yang masih duduk di bangku pendidikan anak usia dini (PAUD) maupun di bangku taman kanak-kanak.


Pola asuh anak dalam keluarga sangat berpengaruh dalam segala aspek perkembangan anak termasuk dalam beberapa kecerdasan anak, beberapa acuan sederhana kecakapan intrapersonal yang dapat digunakan untuk mengukur kesiapan anak memasuki sekolah dasar diantaranya:




  • Anak sudah mampu mengurus diri sendiri, antara lain dalam hal buang air kecil dan buang air besar.

  • Anak sudah mampu melaksanakan aktivitas-aktivitas tertentu dengan inisiatifnya sendiri, misalnya bangun, mandi, dan makan tanpa harus disuruh-suruh atau di kejar-kejar untuk melaksanakan urutan tugas-tugas tersebut agar tidak terlambat sekolah.

  • Anak sudah memiliki inisiatif sendiri untuk belajar dan segera mengerjakan dan menyelesaikan tugas-tugas tersebut.

  • Anak sudah memiliki kesadaran bahwa untuk dapat memahami dan mendalami suatu ilmu atau kecakapan, harus belajar dengan benar.

  • Anak sudah mampu mengelola dan mengendalikan serta mengelola emosinya secara tepat guna (appropriate) dan konstruktif, bukan secara destruktif (mengamuk, membanting, memukul, berguling-guling dan sebagainya).




Beberapa aspek diatas mau tidak mau harus dimiliki oleh anak, guna kesuksesan belajarnya. Menurut Tembong, melalui proses pembelajaran yang benar, baik di rumah, di sekolah, maupun dilingkungan pengembangan lainnya, di akhir masa sekolah dasar, diharapkan anak memiliki :




  • Need of Achievement (keinginan untuk berprestasi) yang cukup tinggi. Keinginan yang muncul dari dirinya sendiri atau kebutuhan menjadi lebih baik dari hasil sebelumnya.

  • Need of competences (kompetensi) Keinginan atau kebutuhan untuk mampu menguasai berbagai macam kecakapan yang diperlukan dalam perkembangan berikutnya.

  • Kemampuan mengelola dan mengungkapkan emosi-emosi nya secara lebih dewasa

  • Kemampuan untuk menentukan pilihan atas stimulus yang positif dan konstruktif.




Adapun beberapa tolak ukur keberhasilan yang cukup penting dan mendasar dalam perkembangan kecakapan interpersonal anak adalah :




  • Anak-anak mampu menjalin kerja sama dan kesetiaan persahabatan yang positif dengan teman sebaya.

  • Anak-anak mampu memaafkan kesalahan orang lain dan meminta maaf bila mereka bersalah.

  • Anak-anak mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial atau pertemanan baru.

  • Anak mampu mengidentifikasi peranan penting dirinya, baik didalam lingkungan keluarga, sekolah maupun di kalangan teman-teman sebayanya.


Mungkin sedikit gambaran di atas tentang karakteristik anak usia dini bisa menjadi panduan bagi anda untuk lebih memahami tentang perkembangan anak anda. Anak adalah warisan yang harus dijaga dan diberdayakan dengan sebaik-baiknya.

 

Selasa, 03 April 2012

bahagialah

bahagia itu milik semua orang maka dari itu berbahagialah. jika kita percaya akan adanyaa nikmat Allah yang begitu besar pasti kebahagiaan itu akan kita rangkul.

tak boleh ada kata putus asa

harus selalu berusaha

dan tetap semangat

dan jangan lupa senyuuuuum . . .

Sabtu, 28 Januari 2012

sang waktu

sang waktu itu teman kita yang paling setia

teman bahagia ataupun duka

sang waktu akan membuktikan diterima atau tidaknya kita di dunia yang fana ini

hargai waktu dan manfaatkan waktu walau hanya sedetik pun

 

Senin, 16 Januari 2012

Tuhan Dalam Otak Manusia

Tuhan Dalam Otak Manusia

Beberapa decade belakangan ini, para ilmuan telah berhasil mengungkap bagaimana manusia memiliki kecenderungan mistis-transendental dalam dirinya. Pada tahun 1990, Dr. Michael Persinger, seorang ahli Psikoneurologi Kanada telah berhasil membuktikan keberadaan pusat spiritual pada bagian otak manusia. Bagian otak tersebut berfungsi khusus untuk merespon ajaran moral keagamaan. Letaknya dalam Lobus Temporal atau pelipis.

Hasil penelitian ini dikuatkan denga hasil penelitian yang dilakukan oleh  Dana Zohar dan Ian Marshal yang merumuskan tentang kecerdasan spiritual (Spiritual Intellegence). Penelitian keberadaan alam bawah sadar kognitif oleh Joseph De loux yang kemudian dikembangkan menjadi Kecerdasan Emosi (Emotional Intellegence). Oleh Daniel Goleman dan serta Robert Cooper dengan konsep suara hati. Semua penelitian ini mengarah pada bukti-bukti wujudnya seperangkat alat alami yang ditaruh dalam diri manusia yang membuatnya bergantung secara khusus dengan dunia ghaib dan alam spiritual keagamaan.

Prof. Sholeh, tokoh yang berhasil mengungkap kehebatan shalat tahajjud, menyatakan adalah mungkin dalam diri manusia terdapat hormon yang dapat membuat seseorang berkecenderungan untuk berketuhanan. Menurutnya, semua kecenderungan yang ada dalam diri manusia memiliki kaitan dengan hormone-hormon tertentu, sebagaimana hormon kecerdasan, hormon lapar, hormon haus dan hormon seks. Haya saja ia belum dapat menyatakan secara tegas karena hal itu membutuhkan penelitian lebih lanjut. Jika dugaanya ini benar dan hormon itu dapat diproduksi ulang, niscaya kita dapat membuat manusia menjadi makhluk shaleh yang tekun beribadah1.

Ibnu ‘Asyur, tokoh tafsir terkemuka, mengatakan bahwa karena kecenderungan yang berasal dari kekhasan biologis manusia ini, kalaupun manusia tidak berpikir dan tidak diajarkan akidah-akidah yang salah dan sesat, niscaya manusia dapat menemukan jalan petunjuk kepada pengesaan Tuhan. Ini tentu karena adanya watak yang sudah melekat tersebut dalam meafsirkan kata “Fitrah” dalam ayat

فأقم وجهك للدين حنيفا فطرت الله التى فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله ذالك الدين القيم ولاكن أكثر الناس لا يعلمون


Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, Fitrah Allah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S Ar-Rum:30).


            Ibnu ‘Asyur dengan mengutip informasi dari Ibnu ‘Athiyyah, mengatakan bahwa penafsiran yang dapat dipertanggung jawabkan adalah yang mengartikan fitrah sebagai bentuk penciptaan dan potensi yang terpendam dalam diri manusia yang dipersiapkan agar manusia dapat membedakan antara satu ciptaan Allah dari ciptaan lainnya dan dapat pula dipergunakan untuk mengambil petunjuk atas wujudnya Tuhan, dan untuk mengenal segala aturan-Nya. Namun tidak jarang potensi untuk mencari kebenaran ini mendapatrkan informasi yang salah dan menyesatkan dari lingkungan sekitarnya, yang kebanyakan tidak sesuai dengan akal pikiran dan fitrahnya sendiri. Dalam hal ini, kita dapat merujuk sabda Nabi SAW:

كل مولود يولد على الفطرة, فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه


Setiap anak dilahirkan sesuai dengan fitrahnya. Kedua orang tuanyalah yang menjadikan beragama Yahudi atau Nasrani atau Majusi.” (H.R. al-Bukhari, No 1316)

Disinilah, perlunya seorang utusan (rasul) memberikan penjelasan dan petunjuk yang benar mengenai tuntutan nalurinya, baik mengenai sifat-sifat ketuhanan, cara-cara beribadah, ataupun ajaran-ajaran moral yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Oleh karena dorongan ini bersifat esensial, manusiawi dan primer, sehingga secara naluri manusia tidak dapat melepaskan diri darinya, maka beragama (at-Tadayyun) atau agama (ad-Din) itu sendiri dimasukkan dalam rangkaian lima kebutuhan mendasar (adh-Daruriyah) manusia yang senantiasa mendapatkan perlindungan dari syariat. Dengan melihat begitu mendesaknya informasi tentang Tuhan, cara-cara beribadah, dan aturan moral, maka peran utusan menjadi sangat penting bagi umat manusiauntuk menjaga agar keberagaman manusia terjaga dari penyimpangan-penyimpangan.

 

Daftar Pustaka

  • Imam Musbikin. 2008. Melogikakan Rukun Islam bagi Kesehatan Fisik dan Psikologis Manusia. Jogjakarta: DIVA Press.


 

Indikator

Indikator Keberhasilan Pendidikan

Kesejahteraan mahasiswa mestinya diangkat menjadi indikator keberhasilan pendidikan/pembelajaran di suatu perguruan tinggi. Kalau dengan sistem pendidikan yang ada sekarang ini mahasiswa menjadi tidak betah belajar, tidak nikmat berada di lingkungan kampus, mestinya ada sesuatu yang salah dalam sistem pendidikan/pembelajaran kita. Asumsi-asumsi yang melandasinya? Konsep-konsepnya? Atau, mungkin hanya pelaksanaannya? Kita mungkin perlu kembali melihat asumsi-asumsi tentang mahasiswa yang melandasi sistem pendidikan kita.

Asumsi-asumsi yang perlu dipatok sebagai landasan pengembangan konsep pemberdayaan belajar mahasiswa, yang pada gilirannya juga menjadi landasan praktek pendidikan di perguruan tinggi.

• Mahasiswa adalah makhluk yang bebas membentuk dirinya sendiri

• Mahasiswa adalah makhluk yang bermartabat

• Mahasiswa mampu mengontrol dirinya sendiri

• Mahasiswa adalah “si belajar” dengan karakteristiknya yang khas

Konsep pendidikan juga perlu ditinjau lagi. Secara sederhana kita sering mengungkapkan bahwa pendidikan dimaksudkan untuk menanamkan nilai yang kita anggap “baik” dalam diri mahasiswa. Kalau kita mengembangkan suatu konsep bahwa mahasiswa harus diberdayakan untuk belajar, maka konsep pendidikan seperti itu tidak cocok. Mahasiswa bukanlah ladang yang subur tempat orang dosen menanamkan pikirannya. Hubungan dosen dengan mahasiswa tidak dapat dilakukan seperti halnya hubungan seorang petani dengan ladangnya.

Konsepsi pemberdayaan belajar mahasiswa sangat penting untuk diimplementasi. Masa depan bangsa dan negara kita ada di tangan mereka, yang sekarang ini kita sebut sebagai Mahasiswa. Masa kini adalah masa kita, masa depan adalah masa mereka. Mereka akan mampu melanjutkan membangun bangsa ini, sebagaimana yang dapat kita lakukan sekarang, kalau mereka menyiapkan diri untuk mengambil peran itu –bukan disiapkan.

Masih banyak fenomena pendidikan/pembelajaran lainnya yang sekarang ini terjadi tanpa disadari mengapa itu dilakukan. Upaya-upaya untuk memperbaikinya juga tidak mudah dilaksanaakan — ibarat sebagai penyakit keturunan amat sukar disembuhkan. Bagaimanapun juga, untuk memperbaiki penyelenggaraan pendidikan/pembelajaran di perguruan tinggi membutuhkan informasi yang memadai tentang karakteristik belajar mahasiswa dan bagaimana menata lingkungan agar mahasiswa dapat belajar dengan caranya yang terbaik.

Salah satu karakteristik mahasiswa, terutama mahasiswa-mahasiswa yang termasuk berbakat, adalah kebutuhan akan kebebasan dalam melakukan kontrol diri. Fenomena-fenomena pendidikan di atas nyata sekali membatasi kebebasan mahasiswa untuk bertindak kreatif-produktif. Hampir semua perilaku dikontrol oleh kondisi atau sistem yang berada di luar diri mahasiswa sehingga yang terbentuk nantinya adalah mahasiswa-mahasiswa yang “manis” dan “patuh” pada kehendak lingkungan. Secara khusus, meskipun keinginan belajar, cara belajar, dan hal-hal lain yang terkait dengan pemberdayaan belajar mahasiswa banyak tergantung pada pembawaan, namun sejauh mana belajar itu benar-benar terjadi dalam diri mahasiswa tergantung pula pada kondisi lingkungannya.

Banyak mahasiswa yang memiliki potensi belajar tinggi (terutama pada mahasiswa berbakat) tidak dapat menunjukkan keunggulannya karena lingkungannya secara sistematik dan sistemik menghambat pertumbuhan belajarnya. Oleh karena itu, siapapun dia, apabila berniat memberdayakan belajar mahasiswa tatalah lingkungan belajar agar mahasiswa bebas dalam menikmati dunia belajar yang sesungguhnya. Perguruan tinggi dewasa ini kurang mampu menampilkan diri dalam upaya menjawab tantangan ini.

Di berbagai perguruan tinggi, sangat mudah ditemukan fenomena-fenomena yang secara sistematik dapat menghancurkan gairah belajar mahasiswa. Perguruan tinggi tidak dirancang dengan baik untuk menumbuhkan pribadi-pribadi unggul yang nantinya benar-benar mampu hidup di era baru.