Selasa, 29 November 2011

usia dini

seorang manusia memperoleh ilmu dalam setiap tingkatan usianya.


seorang anak usia dinipun dalam hidupnya sudah berhak memperoleh ilmu-ilmu dalam kehidupan. anak usia dini memperoleh dan menerapkan ilmunya dalam dunia mereka yaitu dunia bermain. setiap saat dalam pikiran mereka hanyalah bermain, bermain, dan bermain. saat bermain itu anak haruslah dengan bimbingan orang yang lebih dewasa. dengan didampingi anak diberikan arahan-arahan dan cara-cara belajar yang benar.

ilmu dlm pendidikan

pendidikan itu sangatlah penting bagi setiap manusia. dari pendidikan kita memperoleh ilmu . dan seberapapun ilmu yang kita dapatkan sangatlah berharga untuk kehidupan kita.

setiap manusia selalu berlomba – lomba dalam mencari ilmu. ilmu yang bermanfaat akan senantiasa memberikan kebahagiaan dan prestasi

jika kita menjadi manusia yang berprestasi  jangan lah menjadi pribadi yang sombong, tetaplah menjadi pribadi yang rendah hati dan berjiwa sosial. sampaikan ilmu yang kita punya kepada orang lain terutama kepada orang yang membutuhkan.

 

salam sapa

syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan nikmatnya blog ini dapat terwujud dan semoga tulisan - tulisan di blog ini dapat dibaca dan diterima oleh para pembaca.  semoga apa yang tertulis dapat bermanfaat dan dapat memberikan hiburan bagi para pembaca. tidak lupa jika ada kritik maupun saran yang bermanfaat  insyaallah akan  selalu saya diterima .//terimakasih dan salam sukses untuk semua//

Minggu, 27 November 2011

Pembelajaran Kontekstual sebagai salah satu metode inovasi

Contextual teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penh ntuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.

 

Untuk melihat selengkapnya, silahkan klik di sini

Minggu, 20 November 2011

SMS-an Layaknya Chating-an

Bagi kalian yang memiliki Hp ber-tipe s60v3/s60v5, saya memiliki satu aplikasi yang sangat bagus untuk kalian coba, ingin SMS-an serasa menggunakan iPhone?

Kali ini saya akan berbagi mengenai salah satu aplikasi untuk sms-an layaknya iPhone,,,,kok bisa?? Ya bisa,,,dengan menggunakan aplikasi Threadsms v1.96 ini kamu bisa menikmati layanan sms serasa menggunakan iPhone hehehe,,,,

Kelebihannya apa aja?? Kelebihannya banyak sekali, salah satunya SMS-an layaknya iPhone ataupun chatingan, bisa menampilkan avatar juga, kalo kalian pernah melihat Samsung Galaxi, nah seperti itu kira-kira contoh sms-annya.

Mau lihat gambarnya???


Caranya gimana? Caranya gampang,,,,download aj aplikasinya di sini sudah?? Setelah itu buka file ‘rar’ nya kemudian kirim atau copy paste di hp kamu, ikuti aja langkah-langkah instalasinya,,, sudah??

Nikmatilah SMS-an layaknya chatingan atau serasa menggunakan iPhone,,,

aku sudah mencobanya di hp nokia x6 dan berhasil dengan sempurna.

 

 

Mempercantik Win7 dengan Winstep Extreme

Mempercantik Win7 Dengan Winstep Extreme

Hmmmhhh malam-malam, hujan-hujan lagi enaknya ngapain y,,,,oh iy aku punya satu aplikasi ne, kalo kalian pasang di computer kalian gak bakal bosan deh mandangin computer atau laptop kalian,,,,hehehehe

Nama aplikasinya adalah Winstep Extreme, banyak tampilan-tampilan yang memukau juga pilihan theme yang bermacam-macam, kalo di install di win7 kalian maka lebih atraktif dan lebih memukau lagi,,,,

Caranya gampang, tinggal buka file ‘rar’ nya kemudian install aplikasinya, ikuti aja langkah-langkahnya,,,,,

Ne lihat aj tampilannya,,,,,



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Gambar lauinnya,,,,



 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gimana??? Tertarik? Saya sudah coba di laptop saya dan memang tampilannya sangat memukau apa lagi jika memakai theme yang transparan,,,,, Langsung aj download filenya dibawah ini,,,,

Link

 

 

 

Internet Untuk Anak Tercinta

Banyak orang mengatakan kemajuan teknologi seperti dua mata pisau, di satu sisi memberikan kemudahan dan kemajuan bagi hidup manusia, tetapi di sisi lain terkadang juga bisa meracuni atau merusak manusia itu sendiri. Demikian juga dengan teknologi computer dan internet.

Pada satu sisi, melalui internet kita bisa dengan mudah mencari dan mendapatkan berbagai informasi dan pengetahuan yang kita butuhkan dalam sekejap. Berkomunikasi dengan kerabat di belahan dunia lain melalui berbagai cara dengan mudah, cepat dan murah, berbelanja dan memesan barang tanpa perlu keluar rumah, atau sebaliknya, menjual barang dan jasa ke seluruh dunia tanpa ada batasan geografi.

Akan tetapi di sisi lain, internet juga menyimpan beragam efek negative. Sebut saja begitu mudahnya seseorang pengguna internet mendapatkan akses ke materi pornografi, perjudian dan produk bajakan, atau berbagai bentuk hal yang melanggar hukum lainnya.

Hal itulah yang sering membuat sebagian orang ragu-ragu dan gamang memperkenalkan teknologi komputer dan internet kepada putera-puteri mereka. Ketakutan yang berlebih jika anak-anak mereke nantinya bisa terjerumus kepada hal-hal yang tidak baik, membuat mereka menutup mata bahwa ada banyak manfaat yang bisa dinikmati oleh putera-puteri mereka melalui seperangkat alat komputer.

Padahal internet bisa saja membantu putera-puteri mereka mencari dan mendapatkan informasi yang dibtuhkannya dalam mengerjakan pekerjaan rumah atau mencari kliping, computer bisa juga menjadi sarana mengasah kreativitas anak-anak melalui aplikasi pengolah gambar atau musiknya, atau bagaimana computer bisa menyuguhkan pelajaran yang dikemas dalam aplikasi permainan anak yang menarik dan membuat anak tidak menyadari bahwa dirinya sedang belajar.

Oleh sebab itulah, dalam makalah ini sebagai resume dari buku yang berjudul “Internet Untuk Anak Tercinta” yang ditulis oleh Yuliandi Kusuma dan D Ardhy artanto, akan disajikan bagaimana kita bisa mengawasi dan mengontrol anak dalam berselancar di internet dengan Parental Control.

Keresahan orang tua terhadap efek negatif yang mungkin muncul dan mungkin bisa menimpa putera-puteri mereka, sebenarnya sudah ditangkap oleh Microsoft sebagai si pembuat system operasi. Untuk itulah, mulai dari system operasi Windows Vista, Microsoft telah menambahkan sebuah fitur baru bernama Parental Control.

Parental Control merupakan Tool atau program yang terdapat pada Vista dan Windows 7 yang berguna untuk membantu mengelola bagaimana anak-anak mengelola komputer. Fitur ini memungkinkan untuk memblokir akses Internet ke situs-situs khusus dewasa, mengeset agar anak-anak memainkan game yang sesuai dengan rating usianya, mengatur aplikasi mana yang boleh dijalankannya, mengatur kapan dan berapa lama anak-anak dapat menggunakan computer hingga melihat catatan apa saja yang dilakukannya di depan komputer saat tidak ada orang tua yang menemaninya.

Tool ini tentunya sangat berguna bagi orang tua yang ingin senantiasa mengawasi anaknya ketika menggunakan internet, dan salah satu yang menarik pada Parental Control ini yakni adanya Actifity Report yang akan memberikan laporan mengenai aktifitas anak-anak. Fungsi dari aplikasi ini menyediakan catatan aktifitas berkomputer anak untuk orang tua. Selain Parental Control ini juga ada fungsi tambahan yang sangat bagus untuk memantau anak ketika berselancar di Internet yakni Windows Life Safety, pada Vista vitur ini telah menjadi satu dengan Parental Control.

Dengan mendayagunakan Parental Control, tentu para orang tua lebih merasa aman ketika si anak duduk di depan computer tanpa perlu ditunggui setiap waktu.

 

 

Rabu, 09 November 2011

PERBEDAAN INDIVIDU DAN IMPLIKASI DALAM PEMBELAJARAN

PERBEDAAN INDIVIDU DAN IMPLIKASI DALAM PEMBELAJARAN


A. Latar Belakang

Dari bahasa bemacam-macam aspek perkembangan individu, dikenal ada dua fakta yang menonjol, yaitu (i) semua manusia mempunyai unsur-unsur kesamaan di dalam pola perkembangannya dan (ii) di dalam pola yang bersifat umum dari apa yang membentuk warisan manusia secara biologis dan sosial, tiap-tiap individu mempunyai kecenderungan berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut secara keseluruhan lebih banyak bersifat kuantitatif dan bukan kualitatif. Sejauh mana individu berbeda akan mewujudkan kualitas perbedaan mereka atau kombinasi-kombinasi dari berbagai unsur perbedaan tersebut.

Setiap orang, apakah ia seorang anak atau seorang dewasa, dan apakah ia berada di dalam suatu kelompok atau seorang diri, ia disebut individu. Individu menunjukkan kedudukan seseorang sebagai orang perorangan atau perseorangan.Sifat individual adalah sifat yang berkaitan dengan orang perseorangan, berkaitan dengan perbedaan individual perseorangan. Ciri dan sifat orang yang satu berbeda dengan yang lain. Perbedaan ini disebut perbedaan individu atau perbedaan individual.Maka “perbedaan” dalam “perbedaan individual” menurut Landgren (1980: 578) menyangkut variasi yang terjadi, baik variasi pada aspek fisik maupun psikologis.Seorang ibu yang memiliki seorang bayi, bertutur bahwa bayinya banyak menangis, banyak bergerak, dan kuat minum. Ibu lain yang juga memiliki seorang bayi, menceritakan bahwa bayinya pendiam, banyak tidur, tetapi kuat minum. Cerita kedua ibu itu telah menunjukkan bahwa kedua bayi itu memiliki ciri dan sifat yang berbeda satu sama lainnya.

Seorang guru setiap tahun ajaran baru selalu menghadapi siswa-­siswa yang berbeda satu sama lain. Siswa-siswa yang berada di dalam sebuah kelas, tidak terdapat seorang pun yang sama. Mungkin sekali dua orang dilihatnya hampir sama atau mirip, akan tetapi pada kenyata­annya jika diamati benar-benar antara keduanya tentu terdapat per­bedaan. Perbedaan yang segera dapat dikenal oleh seorang guru tentang siswanya adalah perbedaan fisiknya, seperti tinggi badan, bentuk badan, wurna kulit, bentuk muka, dan semacamnya.Dari fisiknya seorang guru cepat mengenal siswa di kelasnya satu per satu. Ciri lain yang segera dapat dikenal adalah tingkah laku masing-masing siswa, begitu pula suara mereka. Ada siswa yang lincah, banyak gerak, pendiam, dam sebagainya. Ada siswa yag nada suaranya kecil dan ada yang besar atau rendah, ada yang berbicara cepat dan ada pula yang pelan­pelan. Apabila ditelusuri secara cermat siswa yang satu dengan yang lain memiliki sifat psikis yang berbeda-beda.

Upaya pertama yang dilakukan untuk mengetahui perbedaan individu, sebelum dilakukan pengukuran kapasitas mental yang mempengaruhi penilaian sekolah, adalah menghitung umur kronologi. Seorang anak memasuki sekolah dasar pada umur 6 tahun dan ia diperkirakan dapat mengalami kemajuan secara teratur dalam tugas­tugas sekolahnya dilihat dalam kaitannya dengan faktor umur. Selanjutnya ada anggapan bahwa semua anak diharapkan mampu menangkap/ mengerti bahan-bahan pelajaran yang mempunyai kesamaan materi dan penyajiannya bagi semua siswa pada kelas yang sama. Ketidakmampuan yang jelas tampak pada siswa uptuk menguasai bahan pelajaran umumnya dijelaskan dengan pengertian faktor-faktor seperti kemalasan atau sikap keras kepala.Penjelasan itu tidak mendasarkar, kenyataan bahwa para siswa memang berbeda dalam hal kemampuan mereka untuk menguasai satu atau lebih bahan pelajaran dan mungkin berada dalam satu tingkat perkembangan.

Telah disadari bahwa perbedaan-perbedaaan antara satu dengan lainnya dan juga kesamaan-kesamaan di antara mereka merupakan ciri-ciri dari semua pelajaran pada suatu tingkatan belajar.Sebab-sebab dan pengaruh perbedaan individu ini dan sejauh mana tingkat tujuan pendidikan, isi dan teknik-teknik pendidikan ditetapkan, hendaknya disesuaikan dengan perbedaan-perbedaan tersebut, tampaknya hal ini telah mendapat banyak perhatian dari para ahli ilmu jiwa dan petugas sekolah.

Inteligensi mempengaruhi penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungannya, orang lain dan dirinya sendiri. Semakin tinggi taraf inteligensinya semakin baik penyesuaian dirinya dan lebih mampu bereaksi terhadap rangsangan lingkungan atau orang lain dengan cara yang dapat diterima. Hal ini jelas akan meningkatkan konsep dirinya, demikian pula sebaliknya .Seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi akan meningkatkan prestisenya. Jika prestisenya meningkat maka konsep dirinya akan berubah (Syaiful, 2008).

Status sosial seseorang mempengaruhi bagaimana penerimaan orang lain terhadap dirinya. Penerimaan lingkungan dapat mempengaruhi konsep diri seseorang.Penerimaan lingkungan terhadap seseorang cenderung didasarkan pada status sosial ekonominya. Maka dapat dikatakan individu yang status sosialnya tinggi akan mempunyai konsep diri yang lebih positif dibandingkan individu yang status sosialnya rendah. Hal ini didukung oleh penelitian Rosenberg terhadap anak-anak dari ekonomi sosial tinggi menunjukkan bahwa mereka memiliki konsep diri yang tinggi dibandingkan dengan anak-anak yang berasal dari status ekonomi rendah.Hasilnya adalah 51 % anak dari ekonomi tinggi mempunyai konsep diri yang tinggi. Dan hanya 38 % anak dari tingkat ekonomi rendah memiliki tingkat konsep diri yang tinggi (dalam Skripsi Darmayekti, 2006:21).

B. Tujuan

     Untuk nemenuhi tugas kelompok matakuliah Psikologi Perkembangan peserta didik

C. Batasan Materi

  1. Intelegensia

  2. Sosial Ekonomi

  3. Budaya

  4. Konsep pemikiran Ibnu Khaldun tentang pendidikan

  5. Prinsip-prinsip Perkembangan


 

 

 

 

 

 

 

D. Pembahasan

  I. Intelegensia

a)      Pengertian Inteligensi

Inteligensi adalah suatu istilah yang popular. Hampir semua orang sudah mengenal istilah tersebut, bahkan mengemukakannya. Seringkali kita dengar seorang mengatakan si A tergolong pandai atau cerdas ( inteligen ) dan si B tergolong bodoh atau kurang cerdas ( tidak inteligen ). Istilah inteligen sudah lama ada dan berkembang dalam masyarakat sejak zaman Cicero yaitu kira-kira dua ribu tahun yang lalu dan merupakan salah satu aspek alamiyah dari seseorang.Inteligensi bukan merupakan kata asli yang berasal dari bahasa Indonesia. Kata inteligensi adalah kata yang berasal dari bahasa latin yaitu “ inteligensia “. Sedangkan kata “ inteligensia “ itu sendiri berasal dari kata inter dan lego, inter yang berarti diantara, sedangkan lego berarti memilih. Sehingga inteligensi pada mulanya mempunyai pengertian kemampuan untuk memilih suatu penalaran terhadap fakta atau kebenaran. Untuk memperjelas pengertian inteligensi, maka penulis memaparkan beberapa  definisi  inteligensi  yang  di kemukakan  oleh  beberapa  ahli phisikologi maupun pendidik diantaranya :

Menurut para ilmuwan, dewasa ini manusia  menggunakan 10 persen dari kemampuan otaknya. Dari 10 persen itu sebagian besar hanya mengoptimalkan belahan otak kiri (Stanford Research Institute).Pada dasarnya setiap orang dapat menjadi jenius. Idealnya memang harus dipersiapkan sejak kecil dengan mengaktifkan fungsi otak untuk mengembangkan kecerdasan-kecerdasan yang menunjang proses pembelajaran. Usia remaja juga dapat memberdayakan otak secara optimal, untuk itu kita harus mengetahui terlebih dahulu cara kerja otak tersebut. (Sidiarto L. 2008)

Beberapa penelitian yang telah dilakukan  mengenai kecerdasan otak, diketahui bahwa kecerdasan otak yang bersumber di sistem limbik justru memberikan kontribusi jauh lebih besar dibandingkan dengan kecerdasan yang bersumber dari neokorteks. Terdapat dua kecerdasan yang bersumber selain dari neo kortex yaitu  pada   emosional di sistem limbik dan  spiritual di God spot (temporal).  Kontribusi kecerdasan emosional  dan  spiritual terhadap keberhasilan karir atau hidup seseorang diperkirakan  sekitar 80 %, sedangkan sisanya merupakan kontribusi dari kecerdasan rasional.  Dari 80 % kontribusi tersebut ternyata spiritual  mendominasi sekitar 60 % dan sisanya merupakan kontribusi emosional .

Potensi kecerdasan sebagai inti Inteligensi merupakan pusat kreativitas dan inovasi yang dihasilkan oleh suatu fungsi organ otak pada manusia (Cattel,1971 dalam Pasiak 2008). atau manusia dapat beraktifitas bermanfaat yang merupakan kegiatan kreatif dan inovatif berdasar derajat inteligensi yang dimotori oleh otak yang sehat.

Dengan demikian untuk mengatasi segala tantangan dan perubahan yang terjadi. Oleh karena itu harus  cerdas dan juga  mampu menggunakan semua kecerdasan otak yaitu intelektual, emosional dan spiritual.

Beberapa Pengertian Intelegensi menurut Para Ahli dalam Dalyono. 2007)

  1. Super dan Cites mengemukakan” Intelegence has frequently been difined as the ability to adjust to the environment or to learning from experience” (Super & Cites, 1962: 83) Intelegnsi sebgai kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan atau belajar dati pengalaman. Dimana manusia hidup dan berinteraksi didalam lingkungannya yang kompleks untuk itu ia memerlukan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.

  2. Garrett (1946: 372) mengemukakan “ Intelegence includes at least the abilities demanded in the solution of problems which requer the comprehension and use of symbols” (intelegensi itu setidak-tidaknya mencakup kemampuan kemampuan yang diperlukan untuk pemecahan masalah-masalah yang memerlukan pengertian serta mengunakan symbol-simbol. Karena manusia hidup senantiasa menghadapi permasalahan, setiap permasalahan harus dipecahkan agar manusia manusia memperoleh keseimbangan (homeostasis) dalam hidup.

  3. Bischor, 1954 mengemukakan “ Intelegence is the ability to solve problems of all kinds” Intelegensi ialah kemampuan untuk memecahkan segala jenis masalah. Defenisi intelegensi yang dikemukakan bischor ini memuat perbedaan dengan defenisi menurut gareet yaitu intelegensi dalam asti khusus sementara bischor dalam artian yang lebih luwes namun bersifat operasional dan fungsional bagi kehidupan manusia.

  4. Haidentich 1970 mengemukakan” intelegence refers to ability to learn and to utilize what has been learned in adjusting to unfamiliar situation, or in the solving of problems” Intelegensi menyangkut  kemampuan untuk belajar dan menggunakan apa yang telah dipelajari dalam usaha penyesuaian terhadap situasi-situasi yang kurang dikenal atau dalam pemecahan  masalah-masalah. Dimana manusia yang belajar sering menghadapi situasi-situasi baru serta permasalahan hal ini memerlukan kemampuan individu untuk belajar menyesuaikan diri serta memecahkan setiap permasalahan yang dihadapi.


Menurut Purwanto, N.(1998) “dalam mendidik dan mengajar, pendidik tidak cukup hanya menyisihkan pengetahuan-pengetahuan atau tanggapan-tanggapan yang banyak ke dalam otak anak-anak” .Pendapat ini mempertegas bahwa anak harus diajar berpikir dengan baik, supaya anak tersebut dapat berpikir dengan baik pula, dan kita perlu memberikan :

  1. Pengetahuan siap (parate kennis), yaitu pengetahuan pasti yang sewaktu-waktu siap untuk dapat dipergunakan, seperti : hafal tentang huruf abjad, perkalian dsb.

  2.  Pengetahuan yang berisi, yang mengandung arti (tidak verbalistis) dan yang benar-benar   dimengerti oleh anak-anak.

  3. Melatih kecakapan membentuk skema, yang memungkinkan berpikir secara teratur dan skematis.

  4. Soal-soal yang mendorong anak untuk berpikir, dalam hal ini faktor motivasi memegang peranan yang penting.


Williem Sterm, “inteligensi ialah suatu kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat berpikir yang sesuai dengan tujuannya, dan inteligensi tersebut sebagian besar tergantung dengan dasar dan turunan” Berdasar pendapat tersebut pendidikan dan lingkungan tidaklah begitu berpengaruh kepada inteligensi seseorang.

 

Sedangkan menurut Jean Piaget, “intelligence atau inteligensi diartikan sama dengan kecerdasan, yaitu seluruh kemampuan berpikir dan bertindak secara adaptif, termasuk kemampuan mental yang kompleks seperti berpikir, mempertimbangkan, menganalisis, mensiotesis, mengevaluasi dan menyelesaikan persoalan-persoalan”11.

Pendapat ini mempertegas bahwa inteligensi adalah seluruh kemungkinan koordinasi yang memberi struktur kepada tingkah laku suatu organisme sebagai adaptasi mental terhadap situasi baru. Dalam arti sempit inteligensi sering kali diartikan sebagai inteligensi perasional, termasuk pula di dalamnya tahapan-tahapan yang sejak dari periode sensorimotoris sampai dengan operasional formal. (Suryabrata S. 2010)

Menurut pendapat Munandar U. (1999) “bahwa inteligensi meliputi terutama kemampuan verbal, pemikiran lancar, pengetahuan, perencanaan, perumusan masalah, penyusunan strategi, representasi mental, keterampilan pengambilan suatu keputusan dan  keseimbangan serta integritas intelektual secara umum”

Wechler, “merumuskan inteligensi sebagai keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta kemampuan mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif”.

Dari pendapat ini bahwa hal-hal yang mempengaruhi perkembangan intelek itu antara lain :

  1. Bertambahnya informasi yang disimpan (di dalam otak) seseorang sehingga ia mampu berpikir reflektif.

  2. Banyaknya pengalaman dan latihan-latihan untuk memecahkan suatu masalah, sehingga seseorang dapat berpikir proporsional.

  3. Adanya kebebasan berpikir menimbulkan keberanian seseorang dalam menyusun hipotesis-hipotesis yang radikal, kebebasan menjajaki masalah secara keseluruhan dan menunjang keberanian anak dalam memecahkan suatu masalah dan menarik kesimpulan yang baru dan benar.


 

Menurut dasar-dasar teori Piaget, “ perkembangan inteligensi yaitu :

  1. Fungsi inteligensi termasuk proses adaptasi yang bersifat biologis.

  2. Bertambahnya usia menyebabkan berkembangnya struktur inteligensi baru, sehingga pengaruh pula terhadap terjadinya perubahan kualitatif”


Sedangkan Semiawan C., (1977) mengatakan, “Kemampuan menghablurkan mencakup kemampuan berpikir verbal dan berpikir kuantitatif, sedangkan kemampuan menganalisis perubahan mencakup berpikir abstrak dan berpikir verbal” Menurut Bobbi Deporter dan Mike Henachi, “semua kecerdasan yang tinggi, termasuk intuisi ada dalam otak sejak lahir, dan selama lebih dari tujuh tahun pertama kehidupan, kecerdasan ini dapat disingkapkan jika dirawat dengan baik”.

Pendapat ini mempertegas agar supaya kecerdasan-kecerdasan ini terawat secara baik, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain yaitu :

  1. Struktur syaraf bagian bawah harus cukup berkembang agar energi dapat mengalir ke tingkat yang lebih tinggi.

  2. Anak harus merasa aman secara fisik dan emosional.

  3. Harus ada model


b) Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Intelegensi Seseorang

Faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi, sehingga terdapat perbedaan intelegensi  seseorang dengan yang lain ialah:

  1. Pembawaan, Pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan cirri yang dibawah sejak lahir. Batas kesangupan kita yakni dapat tidaknya memecahkan suatu soal, pertama ditentukan oleh pembawaan kita.Orang itu ada yang pintar ada pula yang bodoh. Sekalipun menerima latihan dan pelajaran yang  sama, perbedaan-perbedaan itu masih tetap ada.

  2. Kematangan, tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ(fisik maupun non fisik) dapat dikatakan telah matang jika telah mencapai kesangupan menjalangkan fungsinya masing-masing. Anak tidak dapat memecahkan soal-soal tertentu karena soal-soal itu masih terlampau sukar baginya.Organ-organ tubuhnya dan fungsi-fungsi jiwanya masih belum matang untuk mengenai soalitu dan kematangan erat hubungannya dengan umur.

  3. Pembentukan, pembentukan ialah segala keadaan diluar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi. Dapat kita bedakan pembentukan sengaja seperti yang dilakukan disekolah-sekolah) dan pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam sekitar)

  4. Minat dan pembawaan yang khas, Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan – dorongan(motif-motif) yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar. Motif menggunakan dan menyelidiki dunia luar (manipulate and exploring motivasi) dari manipulasi dan eksplorasi yang dilakukan terhadap dunia luar itu, lama kelamaan timbulah minat terhadap sesuatu, apa yang mereka minat seseorang mendorongnya untuk berbuat lebih giat dan lebih baik

  5. Kebebasan, kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu dalam memecahkan masalah-masalah. Manusia mempunyai kebebasan memilih metode juga bebas dalam memilih masalah sesuati dengan kebutuhannya. Dengan adanya kebebasan ini berarti bahwa  minat itu tidak selamanya menjadi syarat dalam pembentukan intelegensi. (Dalyono, 2007.)


II. Sosial  Ekonomi

Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme)

Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan, yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat, motif, tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku, meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. Holistik atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa), how (bagaimana), dan why (mengapa). What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose), yakni perilakunya itu sendiri. Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how), baik bersumber dari diri individu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi ekstrinsik).

Perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. Setiap individu, demi mempertahankan kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidupnya, akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam dirinya. Dalam hal ini, Maslow mengungkapkan jenis-jenis kebutuhan-individu secara hierarkis, yaitu:

  1. kebutuhan fisiologikal, seperti : sandang, pangan dan papan

  2. kebutuhan keamanan, tidak dalam arti fisik, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual

  3. kebutuhan kasih sayang atau penerimaan

  4. kebutuhan prestise atau harga diri, yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status

  5. kebutuhan aktualisasi diri.


Sementara itu, Stranger (Makmun, 2003) mengetengahkan empat jenis kebutuhan individu, yaitu:

  1. Kebutuhan berprestasi (need for achievement), yaitu kebutuhan untuk berkompetisi, baik dengan dirinya atau dengan orang lain dalam mencapai prestasi yang tertinggi.

  2. Kebutuhan berkuasa (need for power), yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain.

  3. Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation), yaitu kebutuhan untuk mengikat diri dalam kelompok, membentuk keluarga, organisasi ataupun persahabatan.

  4. Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure), yaitu kebutuhan untuk menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat perkembangannya.


Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motivasi) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).

Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka pola mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior), sehingga membentuk suatu siklus.

Dalam pandangan holistik, disebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya, setiap aktivitas yang dilakukan individu akan mengarah pada tujuan tertentu. Dalam hal ini, terdapat dua kemungkinan, tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut.Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh keseimbangan diri (homeostatis). Namun sebaliknya, jika tujuan tersebut tidak tercapai dan kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi disebut frustrasi. Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilakunya, bergantung kepada akal sehatnya (reasoning, inteligensi). Jika akal sehatnya berani mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secara sehat dan rasional (well adjustment). Namun, jika akal sehatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya, maka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment).

Bentuk perilaku salah (maldjustment), diantaranya : Agresi marah, kecemasan tak berdaya, regresi (kemunduran perilaku), fiksasi, represi (menekan perasaan), rasionalisasi (mencari alasan), proyeksi (melemparkan kesalahan kepada lingkungan), sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis), kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bidang lain), berfantasi (dalam angan-angannya, seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya).

Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membantu para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai.Sekaligus juga dapat memberikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi.

III. Budaya

Goodenough, 1971; Spradley, 1972; dan Geertz, 1973 mendefinisikan arti kebudayaan di mana kebudayaan merupakan suatu sistem pengetahuan, gagasan dan ide yang dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat yang berfungsi sebagai landasan pijak dan pedoman bagi masyarakat itu dalam bersikap dan berperilaku dalam lingkungan alam dan sosial di tempat mereka berada (Sairin , 2002).

Sebagai sistem pengetahuan dan gagasan, kebudayaan yang dimiliki suatu masyarakat merupakan kekuatan yang tidak tampak (invisble power), yang mampu menggiring dan mengarahkan manusia pendukung kebudayaan itu untuk bersikap dan berperilaku sesuai dengan pengetahuan dan gagasan yang menjadi milik masyarakat tersebut, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, kesenian dan sebagainya.

Pada dasarnya pendidikan tidak akan pernah bisa dilepaskan dari ruang lingkup kebudayaan. Kebudayaan merupakan hasil perolehan manusia selama menjalin interaksi kehidupan baik dengan lingkungan fisik maupun non fisik.Hasil perolehan tersebut berguna untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.

Proses hubungan antar manusia dengan lingkungan luarnya telah mengkisahkan suatu rangkaian pembelajaran secara alamiah. Pada akhirnya proses tersebut mampu melahirkan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia. Disini kebudayaan dapat disimpulkan sebagai hasil pembelajaran manusia dengan alam. Alam telah mendidik manusia melalui situasi tertentu yang memicu akal budi manusia untuk mengelola keadaan menjadi sesuatu yang berguna bagi kehidupannya.

Fungsi pendidikan dalam konteks kebudayaan dapat dilihat dalam perkembangan kepribadian manusia. Tanpa kepribadian manusia tidak ada kebudayaan, meskipun kebudayaan bukanlah sekadar jumlah kepribadian-kepribadian.Para pakar antropologi, menunjuk kepada peranan individu bukan hanya sebagai bidakbidak di dalam papan catur kebudayaan. Individu adalah creator dan sekaligus manipulator kebudayaannya. Di dalam hal ini studi kebudayaan mengemukakan pengertian “sebab-akibat sirkuler” yang berarti bahwa antara kepribadian dan kebudayaan terdapat suatu interaksi yang saling menguntungkan. Di dalam perkembangan kepribadian diperlukan kebudayaan dan seterusnya kebudayaan akan dapat berkembang melalui kepribadian–kepribadian tersebut. Inilah yang disebut sebab-akibat sirkuler antara kepribadian dan kebudayaan. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa pendidikan bukan semata-mata transmisi kebudayaan secara pasif tetapi perlu mengembangkan kepribadian yang kreatif.Pranata sosial yang disebut sekolah harus kondusif untuk dapat mengembangkan kepribadian yang kreatif tersebut. Namun apa yang terjadi di dalam lembaga pendidikan yang disebut sekolah kita ialah sekolah telah menjadi sejenis penjara yang memasung kreativitas peserta didik.

Kebudayaan sebenarnya adalah istilah sosiologis untuk tingkah-laku yang bisa dipelajari.Dengan demikian tingkah laku manusia bukanlah diturunkan seperti tingkah-laku binatang tetapi yang harus dipelajari kembali berulang-ulang dari orang dewasa dalam suatu generasi.Di sini kita lihat betapa pentingnya peranan pendidikan dalam pembentukan kepribadian manusia.

Para pakar yang menaruh perhatian terhadap pendidikan dalam kebudayaan mula-mulanya muncul dari kaum behavioris dan psikoanalisis Para ahli psikologi behaviorisme melihat perilaku manusia sebagai suatu reaksi dari rangsangan dari sekitarnya.

Di sinilah peran pendidikan di dalam pembentukan perilaku manusia. Begitu pula psikolog aliran psikoanalis menganggap perilaku manusia ditentukan oleh dorongan-dorongan yang sadar maupun tidak sadar ini ditentukan antara lain oleh kebudayaan di mana pribadi itu hidup. John Gillin dalam Tilaar (1999) menyatukan pandangan behaviorisme dan psikoanalis mengenai perkembangan kepribadian manusia sebagai berikut.

  1. Kebudayaan memberikan kondisi yang disadari dan yang tidak disadari untuk belajar.

  2. Kebudayaan mendorong secara sadar ataupun tidak sadar akan reaksi-reaksi perilaku tertentu. Jadi selain kebudayaan meletakkan kondisi, yang terakhir ini kebudayaan merupakan perangsang-perangsang untuk terbentuknya perilaku-perilaku tertentu.

  3. Kebudayaan mempunyai sistem “reward and punishment” terhadap perilaku-perilaku tertentu. Setiap kebudayaan akan mendorong suatu bentuk perilaku yang sesuai dengan system nilai dalam kebudayaan tersebut dan sebaliknya memberikan hukuman terhadap perilaku-perilaku yang bertentangan atau mengusik ketentraman hidup suatu masyarakat budaya tertentu.

  4.  Kebudayaan cenderung mengulang bentuk-bentuk kelakuan tertentu melalui proses belajar. Apabila analisis Gillin di atas kita cermati, tampak betapa peranan kebudayaan dalam pembentukan kepribadian manusia, maka pengaruh antropologi terhadap konsep pembentukan kepribadian juga akan tampak dengan jelas.


IV. Konsep Pemikiran Ibnu Khaldun Tentang Pendidikan

Pandangan Khaldun tentang penduidikan Islam berpijak pada konsep dan pendekatan filosofis empiris.Melelui pendekatan ini, memberikan arah terhadap visi tujuan pendidikan Islam secara ideal atau praktis. Meski ia tidak mengkhususkan sebuah bab atau pembahasan mengenai tujuan pendidikan, namun dari uraiannya dapat memeberikan kesimpulan terhadap arah dan tujuan pendidikan yang diinginkannya. Menurutnya paling tidak ada 3 (tiga) tingkatanan tujuan pyang hendakdicapaindalamprosespendidikan,yaitu:

  1. Pengembangan kemahiran (al-malakah atau sekill) dalam bidang tertentu. Orang awam bisa memililki pemahaman yang sama tentang suatu persoalan dengan seorang ilmuwan. Akan tetapi, potensi al-malakah tidak bisa dimiliki oleh setiap orang, kecuali setelah ia benar-baner memahami dan mendalami satu disiplin tertentu. Dalam hal ini, para pakar (ilmuwan khususnya) yang memiliki al-malakah secara sempurna.Sementara untuk sampai pada tahap ini, diperlukan pendidikan yang sistematis dan mendalam.

  2. Penguasaan ketrampilan professional sesuai dengan tuntutan zaman ( link and match). Dalam hal ini, pendidikan hendaknya ditunjukkan untuk memperoleh ketrampilan yang tinggi dari profesi tertentu. Pendekatan ini akan menunjang kemajuan dan kontinuitas sebuah kebudayaan, serta peradaban umat manusia dimuka bumi. Pendidikan yang meletakkan ketrampilan sebagai salah satu tujuannya yang hendak dicapai, dapat diartikan sebagai upaya mepertahankan dan memajukanperadabansecarakeseluruhan.

  3. Pembinaan pemikiran yang baik. Kemampuan berfikir merupakan garis pembeda antara manusia dengan binatang. Oleh karena itu pendidikan hendaknya diformat dan dilaksanakan denmgan terlebih dahulu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan potensi-potensi psikologis peserta didik melalui pengembangan akal, akan dapat membimbing peserta didik untuk menciptakan hubungan kerjasama sosial dengan kehidupannya guna mewujudkan kesejahteraan hidupnya didunia dan diakhirat. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka keberadaan pendidikan merupakan bagian integral dari konstruksi sebuah peradaban.proses ini merupakan upaya mulia karena berhubungan dengan penyebaran ilmu pengetahuan. Upaya tersebut merupakan salah satu tugas manusia sebagai kalifah fil-ardh.


Seorang pendidik hendaknya memiliki pengetahuan yang memadai tentang perkembangan psikologi peserta didik, pengetahuan ini akan sangat membantu umtuk mengenal setiap individu peserta didik dalam mempermudah dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Para pendidikhendaknyamengetahuikemampuanandayaserappesertadidik.
Kemampuan ini akan bermanfaat bagi penetapan materi pendidikan yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik. Bila pendidik memaksakan materi di luar kemampuan peserta didiknya, maka akan menyebabkan kelesuan mental dan bahkan kebencian terhadap ilmu pengetahuan yang diajarkan. Bila ini terjadi, maka akan menghambat proses pencapaian tujuan pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara materi pelajaran yang sulit dan mudahdalamcakupanmateripendidikan. Dalam melaksanakan tugasnya, seorang pendidik hendaknya mampu menggunakan metode mengajar yang efektif dan efisien. Dalam hal ini Ibnu khaldun mengemukakan 6 (enam) prinsip utama yang perlu diperhatikan pendidik,yaitu:

  1. Prinsip pembiasaan.

  2. Prinsip tadrij (berangsur-angsur)

  3. Prinsip pengenalan umum(generalistik)

  4. Prinsip kontinuitas

  5. Memperhatikan bakat dan kemampuan peserta didik.

  6. Menghindari kekerasan dalam mengajar.


Sementara pemikiran Khaldun tentang kurikulum pendidikan dapat dilihat dari konsep epistimologinya. Menurutnya, ilmu pengetahuan dalam kebudayaan umat Islam dapat dibagi kepada dua bagian, yaitu; ilmu pengetahuan syari’iyyah dan lmu pengetahuan filosofis.Ilmu pengetahauan asyar’iyyah berkenaan dengan hukum dan ajaran-ajaran Islam. Ilmu ini diantarannya adalah tentang al-quran, hadis , prinsip-prinsip syariah, fiqih, teologi, dan sufisme. Sementara itu ilmu pengetahuan filosofis meliputi; logika, ilmu pengetahuan alam (Fisika), metafisika, dan matematika.Ilmu pengetahuan filosofis juga sering disebut sains ilmiah.Hal ini dibabkan karena dengan potensi akalnya, setiap orang memiliki kemampuan untukmenguasainyadenganbaik.
Ilmu pengetahuan syari’iyyah dan filosofis merupakan pengetahuan yang ditekuni manusia (peserta didik) dan saling berinteraksi, baik dalam proses memperoleh atau proses mengajarkannya .Konsep ini kemudian merupakan pilar dalam merekonstruksi kurikulum pendidikan Islam yang ideal. Yaitu kurikulum pendidikan yang mampu mengantarkan peserta didik yang memmiliki kemampuan membentuk dan membangun peradaban umat manusia

V.Prinsip-Prinsip Perkembangan

Diantara prinsip-prinsip dalam perkembangan salah satu nya adalah: Perbedaan individu (individual difference), makasudnya adalah proses perkembangan setiap individu memilikimsifat dan karakteristik nya sendiri,berbeda satu dengan yang lain.Baik menyangkut kecepatan atau kelambatan nya,ada individu yang lebih cepat pada tahapan tertentu,akan tetapi lebih lambat pada tahapan atau aspek yang lain konsekuensi nya adalah tidak ada dua individuyangsamamesipunlahirkembar.
 

 

Referensi:

Dalyono. M. 2007. Psikologi Pendidikan. Rineka Cipta Jakarta.

Depoter, Bobbi & Mike Hernachi 1999, Quantum Learning Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, Kaifa, Bandung

Hartono S., 1999. Perkembangan Peserta Didik, Rineka Cipta,  Jakarta

Makmun.S.A. 2003.Psikologi Pendidikan. Rosda Karya Remaja. Bandung

Purwanto, N. 1998.Psikologi Pendidikan, Remaja Rosdakarya, Bandung

Semiawan C, 1977. Perspektif Pendidikan Anak Berbakat, Grasindo  Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aliran-Aliran dalam Filsafat Pendidikan

Dalam ilmu filsafat Pendidikan, dikenal beberapa aliran-aliran yang memiliki pandangan yang berbeda-beda dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar, tujuan mengetahui aliran-aliran ini adalah agar kita bisa mengerti dan mengetahui bagaimana menentukan metode yang akan kita pakai dalam mengajar, apakah kita memilih dan mengikuti gaya pandang Perennialisme, Esensialisme atau yang lainnya.


A.    Perenneialisme


Perennialisme memandang bahwa keadaan sekarang adalah zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kekacauan, kebingungan, dan kesimpangsiuran. Ibarat kapal yang akan berlayar, zaman memerlukan pangkalan dan arah tujuan yang jelas. Perennialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan pangkalan yang demikian ini merupakan tugas yang pertama-tama dari filsafat dan filsafat pendidikan.


Belajar menurut perennialisme adalah latihan mental dan disiplin jiwa. Dengan demikian pandangan tentang belajar hendaklah ber­da­sarkan atas faham bahwa manusia pada hakekatnya adalah rasio­nalistis. Maka, belajar tidak lain adalah mengembangkan metode berpikir logis, deduktif dan induktif sekaligus


B.     Esensialisme


Essensialisme mempunyai tinjauan mengenai pendidikan yang berbeda dengan progressivisme. Kalau progressifisme menganggap bahwa banyak hal yang mempunyai sifat yang serba fleksibel dan nilai-nilai yang dapat berubah serta berkembang, essensialisme menganggap bahwa dasar pijak semacam ini kurang tepat. Dalam pendidikan, fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menjadikan timbulnya pandangan yang berubah-ubah, pelaksanaan yang kurang stabil dan tidak menentu.


Pendidikan yang bersendikan tata nilai-nilai yang bersifat demikian ini dapat menjadikan pendidikan itu sendiri kehilangan arah. Dengan demikian, pendidikan haruslah bersendikan pada nilai-nilai yang dapat mendatangkan stabilitas. Agar dapat terpenuhi maksud tersebut nilai-nilai itu perlu dipilih agar mempunyai tata yang jelas dan yang telah teruji oleh wktu. Dengan demikian, prinsip essensialisme menghen­daki agar landasan-landasan pendidikan adalah nilai-nilai yang essen­sial dan bersifat menuntun.


C.    Progressifisme


Progressifime mempunyai konsep yang didasari oleh kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi serta mengatasi masalah-masalah yang bersifat menekan atau mengancam keberlangsungan manusia itu sendiri. sehubungan dengan hal itu, progressifisme kurang menyetujui adanya pendidikan yang bercorak otoriter.

Kesurupan Massal

Hai bloger sejati, kali ini saya akan memposting beberapa tulisan yang sekarang ini marak terjadi di Indonesia khususnya di sekolah-sekolah.

Akhir-akhir ini kita sedang dihadapkan pada fenomena mistis yang cukup mengguncang. Dimana beberapa waktu yang lalu begitu maraknya tayangan mistis di berbagai televisi swasta. Dan kini, fenomena yang sedang terjadi dan sangat fenomenal adalah fenomena kesurupan massal yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, kuhusunya di sekolah-sekolah.

Dan lebih mengherankan lagi, peristiwa kesurupan massal itu pun bisa terjadi di komunitas sekolah yang berbasis agama seperti Madrasah Tsanawiyah negeri (MTsN), atau sekolah-sekolah yang dikelola oleh Ormas Islam (Muhammadiyah).

Keadaan tersebut di atas sungguh kurang dapat diterima oleh akal sehat. Artinya, peserta didik yang dididik berdasarkan ilmu pengetahuan dengan berbagai ragam teori yang dapat dipertanggung jawabkan secara moral, menjadi ''bulan-bulanan'' makhluk halus. , kenapa harus di sekolah? Apakah sekolah banyak demitnya?, Jin yang kurang sopan?, atau banyak hantu yang suka iseng, atau para jin pada protes karena sering dikambinghitamkan bila ada kasus kesurupan selalu saja dia yang disalahkan?.

Munculnya serta maraknya kasus kesurupan tersebut ternyata tidak terjadi begitu saja, tetapi ada semacam rentetan peristiwa serupa yang terjadi di tanah air ini. Kalau kita tinjau lebih jauh, banyak hal yang mengakibatkan terjadinya kasus kesurupan tersebut. Kesurupan dapat terjadi ketika pikiran sedang kosong dan keadaan peserta didik yang kurang baik. Kesurupan juga bisa datang pada saat banyaknya tekanan dari luar maupun dari dalam diri yang berupa tekanan fisik maupun mental. Ataupun juga kurangnya pendidikan agama yang selama ini mereka peroleh dari orang tua ataupun dari sekolah.

Kasus-kasus kesurupan yang semakin merebak ini tidak boleh kita biarkan begitu saja. Karena terjadinya kasus kesurupan tersebut merupakan fenomena lemahnya iman dan kurangnya kesehatan mental psikologi. Permasalahan ini harus segera kita tanggapi, bukan cuma orang yang mengerti agama,psikolog, ataupun psikiater saja namun dari pemerintah terutama yang menangani masalah pendidikan.

Kesurupan adalah sebuah fenomena di mana seseorang berada di luar kendali dari pikirannya sendiri. Beberapa kalangan mengganggap kesurupan disebabkan oleh kekuatan gaib yang merasuk ke dalam jiwa seseorang.

Ada dua teori di balik peristiwa yang menimpa para korban kesurupan massal ini. Pertama adalah teori yang menyatakan bahwa yang menimpa korban kesurupan ini hanyalah sebuah gejala kejiwaan. Yang kedua adalah teori yang menyatakan bahwa mereka mengalami kesurupan karena ada jin yang merasuk ke dalam tubuh mereka (berdasarkan Al-Qur’an surah An-Naas).

Beberapa pendapat  tentang kesurupan menurut para ahli psikologi :

1. Prof. Dr. Dadang Hawari, psikiater dari Universitas Indonesia, menjelaskan, kesurupan adalah reaksi kejiwaan yang dinamakan reaksi disosiasi atau reaksi yang mengakibatkan hilangnya kemampuan seseorang untuk menyadari realitas di sekitarnya, yang disebabkan oleh tekanan fisik maupun mental (berlebihan). Tetapi kalau kesurupannya massal, itu melibatkan sugesti. Reaksi disosiasi dapat terjadi secara perorangan atau bersama-sama, saling memengaruhi, dan tidak jarang menimbulkan histeria massal.
2. Prof. Dr. dr. H. Soewadi, MPH, Guru Besar Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada. Dia yakin kesurupan bukan disebabkan oleh masuknya makhluk halus, seperti jin, kuntilanak, atau lainnya. Soewadi memandang tekanan sosial sebagai biang kesurupan. Kesurupan, menurut ahli jiwa ini adalah gejala gangguan jiwa pada seseorang yang diikuti orang lain dan mengakibatkan hilangnya kepribadian yang asli.
3.Sartono Mukadis, pakar Psikologi Universitas Indonesia, munculnya fenomena kesurupan jika dilihat dari sudut pandang psikologi disebabkan oleh faktor labilitas kepribadian. “Yang terkena pada umumnya orang-orang yang labil dan yang mencari pegangan. Anak badung sekali pun biasanya tidak ada yang kena,” kata Sartono, seperti dikutip di detik.com (25/3/2006).
4. Menurut psikolog Setiyo Purwanto, S. Psi, MSi, dalam psikologi fenomena kesurupan itu bisa dijelaskan dalam tiga hal: pertama, keadaan disosiasi, saat seseorang seakan terpisah dari dirinya; kedua, histeria, saat seseorang tidak dapat mengendalikan dirinya, dan ketiga, split personality, saat diri seseorang tampil dengan beragam perilaku yang dimunculkan oleh “pribadi” yang berbeda

Keempat pakar kecuali Sartono Mukadis, menyimpulkan bahwa kesurupan terjadi karena disosiasi. Dan Setiyo Purwanto menambahkannya dengan 2 poin. Dalam hal ini Sartono Mukadis lebih mengarah pada awal terciptanya disosiasi, yaitu Keadaan mental yang labil (labilitas kepribadian).

Penyebab kesurupan adalah masuknnya mahkluk lain dalam jiwa manusia ketika manusia itu lemah. Dapat disimpulkan juga bahwa fenomena kesurupan kadang atau bahkan sering kali merupakan luapan emosi orang yang mengalaminya dalam rangka mengekspresikan suatu beban yang mereka alami baik fisik maupun kejiwaan

Dalam istilah kedokteran kesurupan disebut possession trans atau suatu kondisi trans pemilikan yaitu terdapatnya perubahan tunggal atau episodic keadaan kesadaran sesorang di mana dapat diketahui adanya pergantian identitas pribadi dengan idenditas baru. Contohnya orang tersebut merasa menjadi orang lain yang hidup ratusan tahun yang lalu atau menyebut dirinya mbah dll. Akibatnya, orang tersebut mempunyai perilaku yang asing dan aneh. Perempuan memang relatif gampang terkena kesurupan dan histeria, karena selain faktor emosi yang lebih juga kemungkinan karena ada perbedaan hormonal dengan laki-laki.

Menurut sudut Pandang Islam, fenomena kesurupan dijelaskan Islam sejak awal. Penyebabnya, adalah gangguan jin jahat dan setan. Hanya saja, jin dan setan itu hanya bisa menguasai orang-orang yang tidak percaya atau ragu pada Allah.

Ibnu Taimiyah dalam Majmu Al Fatwa menyebutkan tentang fenomena ini: ”Jin yang masuk dalam tubuh seseorang itu akan menyebabkan dia berbicara dengan kata yang tidak runtut, tak lagi mengenali dirinya, bahkan untuk kasus yang parah, dia bisa membunuh unta tanpa dia sendiri menyadarinya.”

Al qur’an juga menyodorkan fakta tentang kesurupan. Hal ini tersebut dalam surat Al Baqarah ayat 275, ”Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena tekanan penyakit gila...”

Menurut Ustadz Abu Aqila, aktivis Bengkel Rohani, Dalam Al-qur’an surat al Falaq ayat 4 Artinya;

“dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,”

Disebutkan soal keberadaan tukang sihir yang mengembuskan kejahatannya pada uqod atau buhul atau simpil/sarang setan. Nah, pada saat di dalam tubuh ada sarang setan, mereka bisa masuk melalui pembuluh darah karena di situlah letak simpul-simpul setan. Namun, tidak semua pembuluh darah bisa dimasuki setan, kecuali tiga yang sangat sensitif.

Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa tiga titik itu adalah pembuluh darah yang menghidupkan potensi otak kecil manusia. Di titik itu, jika kita sering berpikir berlebihan sehingga tidak kuat menahan, hal itu bisa menimbulkan depresi. Ketika terjadi penegangan dalam pembuluh darah kita, maka melemahkan potensi elektro kita sehingga ada arus listrik dari golongan jin masuk dan mempengaruhi sehingga terjadi kesurupan. Yang kedua, terletak di pembuluh darah yang menghidupkan potensi khayalan. Sama halnya dengan yang pertama, jika itu menegang karena kita terlalu sering mengkhayal maka setan kemungkinan besar bisa masuk. Yang ketiga di pembuluh yang terletak di bawah telinga. Ini bisa menimpa mereka yang malas, kurang kreatif, tidak punya semangat hidup, cemas, dan putus asa.

Namun. yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kasus kesurupan jika ditinjau dari perspektif Psikologi Pendidikan?

Kesurupan adalah sebuah fenomena di mana seseorang berada di luar kendali dari pikirannya sendiri. Beberapa kalangan mengganggap kesurupan disebabkan oleh kekuatan gaib yang merasuk ke dalam jiwa seseorang.

Jika psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji  perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi, dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang di peroleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektifitas proses pendidikan. Maka fenomena kesurupan merupakan gangguan kejiwaan yang mempengaruhi perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan.

Dari kacamata psikologi, pandangan tentang fenomena kesurupan (possession) terbelah dua. Pandangan pertama meyakini kesurupan adalah realita supranatural. Unsur budaya menjadi sesuatu yang sentral dalam perspektif itu. Dengan demikian, keterlibatan para ahli supranatural menjadi keharusan saat menangani individu-individu yang bermasalah dengan elemen supranatural tersebut.

Pandangan kedua sangat diwarnai tilikan ala psikologi belajar. Kesurupan selintas memiliki kemiripan gejala dengan gangguan identitas disosiatif (GID, dissociative identity disorder, dulu dikenal dengan istilah gangguan kepribadian ganda).

Tetapi, dalam perspektif tersebut, penjelasan atas kesurupan maupun GID sama sekali tidak menyertakan kepribadian lain (alters) maupun faktor-faktor tak kasatmata lain.

Kesurupan, sesuai prinsip psikologi belajar, ialah bentuk perilaku terencana yang ditampilkan individu untuk mendapatkan insentif tertentu. Anggaplah, kesurupan adalah reaksi terhadap stres. Kesurupan merupakan teknik untuk mengatasi stres. Kesurupan ialah bentuk katarsis, yakni pembersihan diri dari sampah-sampah psikis

Berdasar pandangan tersebut, kesurupan sesungguhnya menjadi strategi penyesuaian diri terlepas bahwa strategi itu bersifat infantil atau kekanak-kanakan (immature).

Ditarik ke fenomena kesurupan di sekolah, pandangan psikologi belajar memunculkan bahan retrospeksi bagi kalangan pendidik dan orang tua.

Sangat mungkin, kesurupan bertitik awal dari terlalu tingginya beban akademis siswa. Jam pelajaran yang begitu panjang, muatan pelajaran dengan tingkat kesulitan yang tinggi, masa ujian yang menegangkan, gaya mengajar guru, substansi kurikulum yang lebih dominan pada pengolahan daya pikir serta mengesampingkan pentingnya olah rasa, ekspektasi orang tua, serta penambahan jam belajar lewat kursus, dan sejenisnya bisa mempersempit makna aktivitas belajar sebagai sebuah totalitas pengalaman hidup.

Apalagi jika stres di rumah dan lingkungan pergaulan siswa juga dimasukkan, akan semakin dahsyat tekanan psikologis yang harus diatasi para siswa

Faktor usia juga tidak bisa dikesampingkan. Karena rata-rata siswa sekolah menengah berada pada tahap usia remaja yang kerap diidentikkan sebagai masa penuh badai dan tekanan (storm and stress), sesungguhnya para siswa sekolah menengah secara psikologis memang tengah berada dalam kondisi rawan.

Kerasukan di sekolah menjadi peristiwa yang semakin menarik untuk ditelaah lebih jauh karena berlangsung secara masal. Dari berita-berita di media massa diketahui bahwa kebanyakan pelajar yang mengalami kesurupan berjenis perempuan. Dugaan itu didukung kenyataan serupa, berdasar penelitian Gaw, Ding, Levine, dan Gaw (1998) di Tiongkok

Dominannya perempuan pada fenomena kesurupan, kiranya, bisa dijelaskan lewat suggestibility atau kepekaan individu terhadap sugesti. Dengan asumsi perempuan memiliki suggestibility lebih tinggi, mereka pun menjadi lebih mudah tertular kesurupan setelah menyaksikan rekan-rekan mereka yang juga mengalami kesurupan.

Tiga poin penting yang perlu digarisbawahi dari uraian di atas adalah beban akademik, usia anak didik (remaja), dan suggestibility. Ketiganya patut menjadi perhatian para guru, orang tua, serta otoritas penentu kebijakan pendidikan saat mencoba mengatasi epidemi kesurupan di sekolah-sekolah.

Membangun komunikasi yang asertif dan warna interaksi solutif, ditambah dengan upaya membangun karakter anak didik sebagai insan yang bersikap laku positif, adalah agenda ke depan yang perlu disisipkan ke dalam kurikulum pendidikan.

Tanpa menafikan peran agamawan dan penjelasan-penjelasan agamis tentang fenomena kesurupan, perspektif psikologi menghadirkan sebuah pemahaman lebih rasional sekaligus lebih kompleks bahwa penyebab kesurupan anak-anak didik ternyata tidak harus dicari ke alam gaib.