Kamis, 30 Agustus 2012

Membangun Sukses Dari Hal Yang Kita Sukai

 

Alkisah ada seorang anak muda yang sangat menyukai boneka hingga ia belajar bagaimana menjadi ahli pembuat boneka. Sayangnya, anak muda ini sangat kikuk, dan guru serta murid-murid lainnya selalu berkata bahwa dia tidak punya kemampuan untuk membuat boneka, dan bahwa dia tidak akan pernah berhasil.

Meski demikian, anak muda ini tetap bisa menikmati sehingga ia tak henti-hentinya melatih diri agar berkembang. Walau sudah bekerja keras, mereka akan selalu menemukan kesalahan pada boneka-boneka buatan anak muda ini, dan akhirnya mereka pun mengeluarkan si anak muda dari pelatihan itu.

Tapi anak muda itu tidak menyerah begitu saja. Ia memutuskan sejak saat itu akan menghabiskan seluruh waktunya membuat satu jenis boneka. Dan setiap kali menemukan kekurangan pada bonekanya, ia akan membuangnya dan memulai lagi dari awal. Tahun demi tahun pun berlalu, dan dengan setiap percobaan baru, bonekanya menjadi sedikit lebih baik. Kini, bonekanya jauh lebih baik dari hasil karya teman-temannya. Meski begitu, si anak muda ini tetap melakukan perbaikan, mencari “kesempurnaan”. Hidup seperti itu membuat anak muda ini kurang mampu mampu mencari nafkah, dan banyak orang menertawakan kondisinya yang miskin.

Ketika usianya sudah semakin tua, karya bonekanya sangatlah indah. Begitu bagusnya hingga suatu hari setelah berpuluh-puluh tahun bekerja, ia menyelesaikan satu boneka, dan berkata, “Saya tidak melihat ada yang kurang. Kali ini hasilnya sempurna.” Dan, untuk pertama kalinya dari sekian tahun lamanya, alih-alih membuang boneka ini, ia malah menaruhnya di atas rak. Ia benar-benar merasa puas dan bahagia.

Dan sisa ceritanya menjadi sejarah.

Boneka yang sempurna itu menjadi hidup, mengalami ribuan petualangan, dan memberikan pria tua yang bernama Geppetto itu kebahagiaan yang jauh lebih besar daripada yang didapat pembuat boneka lainnya yang terkenal dari hasil-hasil karyanya.
Membangun sukses kita dari hal-hal yang kita sukai. Dengan ketekunan & semangat tinggi, serta terus berusaha memperbaiki, maka apapun yang dikerjakan akan membuat waktu dan talenta kita lebih bernilai.

 

sumber :http://iphincow.wordpress.com/2012/

 

Karakteristik Anak Usia Dini






Sebagai orang tua maupun pendidik (guru) dalam lembaga, anda selayaknya harus mengerti benar tentang anak didik. Anda di tuntut untuk mampu mengerti dan memahami karakter anak anda untuk memastikan tingkat atau jenjang yang sesuai bagi mereka. Terutama anak-anak yang masih duduk di bangku pendidikan anak usia dini (PAUD) maupun di bangku taman kanak-kanak.


Pola asuh anak dalam keluarga sangat berpengaruh dalam segala aspek perkembangan anak termasuk dalam beberapa kecerdasan anak, beberapa acuan sederhana kecakapan intrapersonal yang dapat digunakan untuk mengukur kesiapan anak memasuki sekolah dasar diantaranya:




  • Anak sudah mampu mengurus diri sendiri, antara lain dalam hal buang air kecil dan buang air besar.

  • Anak sudah mampu melaksanakan aktivitas-aktivitas tertentu dengan inisiatifnya sendiri, misalnya bangun, mandi, dan makan tanpa harus disuruh-suruh atau di kejar-kejar untuk melaksanakan urutan tugas-tugas tersebut agar tidak terlambat sekolah.

  • Anak sudah memiliki inisiatif sendiri untuk belajar dan segera mengerjakan dan menyelesaikan tugas-tugas tersebut.

  • Anak sudah memiliki kesadaran bahwa untuk dapat memahami dan mendalami suatu ilmu atau kecakapan, harus belajar dengan benar.

  • Anak sudah mampu mengelola dan mengendalikan serta mengelola emosinya secara tepat guna (appropriate) dan konstruktif, bukan secara destruktif (mengamuk, membanting, memukul, berguling-guling dan sebagainya).




Beberapa aspek diatas mau tidak mau harus dimiliki oleh anak, guna kesuksesan belajarnya. Menurut Tembong, melalui proses pembelajaran yang benar, baik di rumah, di sekolah, maupun dilingkungan pengembangan lainnya, di akhir masa sekolah dasar, diharapkan anak memiliki :




  • Need of Achievement (keinginan untuk berprestasi) yang cukup tinggi. Keinginan yang muncul dari dirinya sendiri atau kebutuhan menjadi lebih baik dari hasil sebelumnya.

  • Need of competences (kompetensi) Keinginan atau kebutuhan untuk mampu menguasai berbagai macam kecakapan yang diperlukan dalam perkembangan berikutnya.

  • Kemampuan mengelola dan mengungkapkan emosi-emosi nya secara lebih dewasa

  • Kemampuan untuk menentukan pilihan atas stimulus yang positif dan konstruktif.




Adapun beberapa tolak ukur keberhasilan yang cukup penting dan mendasar dalam perkembangan kecakapan interpersonal anak adalah :




  • Anak-anak mampu menjalin kerja sama dan kesetiaan persahabatan yang positif dengan teman sebaya.

  • Anak-anak mampu memaafkan kesalahan orang lain dan meminta maaf bila mereka bersalah.

  • Anak-anak mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial atau pertemanan baru.

  • Anak mampu mengidentifikasi peranan penting dirinya, baik didalam lingkungan keluarga, sekolah maupun di kalangan teman-teman sebayanya.


Mungkin sedikit gambaran di atas tentang karakteristik anak usia dini bisa menjadi panduan bagi anda untuk lebih memahami tentang perkembangan anak anda. Anak adalah warisan yang harus dijaga dan diberdayakan dengan sebaik-baiknya.