Rabu, 09 November 2011

Kesurupan Massal

Hai bloger sejati, kali ini saya akan memposting beberapa tulisan yang sekarang ini marak terjadi di Indonesia khususnya di sekolah-sekolah.

Akhir-akhir ini kita sedang dihadapkan pada fenomena mistis yang cukup mengguncang. Dimana beberapa waktu yang lalu begitu maraknya tayangan mistis di berbagai televisi swasta. Dan kini, fenomena yang sedang terjadi dan sangat fenomenal adalah fenomena kesurupan massal yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, kuhusunya di sekolah-sekolah.

Dan lebih mengherankan lagi, peristiwa kesurupan massal itu pun bisa terjadi di komunitas sekolah yang berbasis agama seperti Madrasah Tsanawiyah negeri (MTsN), atau sekolah-sekolah yang dikelola oleh Ormas Islam (Muhammadiyah).

Keadaan tersebut di atas sungguh kurang dapat diterima oleh akal sehat. Artinya, peserta didik yang dididik berdasarkan ilmu pengetahuan dengan berbagai ragam teori yang dapat dipertanggung jawabkan secara moral, menjadi ''bulan-bulanan'' makhluk halus. , kenapa harus di sekolah? Apakah sekolah banyak demitnya?, Jin yang kurang sopan?, atau banyak hantu yang suka iseng, atau para jin pada protes karena sering dikambinghitamkan bila ada kasus kesurupan selalu saja dia yang disalahkan?.

Munculnya serta maraknya kasus kesurupan tersebut ternyata tidak terjadi begitu saja, tetapi ada semacam rentetan peristiwa serupa yang terjadi di tanah air ini. Kalau kita tinjau lebih jauh, banyak hal yang mengakibatkan terjadinya kasus kesurupan tersebut. Kesurupan dapat terjadi ketika pikiran sedang kosong dan keadaan peserta didik yang kurang baik. Kesurupan juga bisa datang pada saat banyaknya tekanan dari luar maupun dari dalam diri yang berupa tekanan fisik maupun mental. Ataupun juga kurangnya pendidikan agama yang selama ini mereka peroleh dari orang tua ataupun dari sekolah.

Kasus-kasus kesurupan yang semakin merebak ini tidak boleh kita biarkan begitu saja. Karena terjadinya kasus kesurupan tersebut merupakan fenomena lemahnya iman dan kurangnya kesehatan mental psikologi. Permasalahan ini harus segera kita tanggapi, bukan cuma orang yang mengerti agama,psikolog, ataupun psikiater saja namun dari pemerintah terutama yang menangani masalah pendidikan.

Kesurupan adalah sebuah fenomena di mana seseorang berada di luar kendali dari pikirannya sendiri. Beberapa kalangan mengganggap kesurupan disebabkan oleh kekuatan gaib yang merasuk ke dalam jiwa seseorang.

Ada dua teori di balik peristiwa yang menimpa para korban kesurupan massal ini. Pertama adalah teori yang menyatakan bahwa yang menimpa korban kesurupan ini hanyalah sebuah gejala kejiwaan. Yang kedua adalah teori yang menyatakan bahwa mereka mengalami kesurupan karena ada jin yang merasuk ke dalam tubuh mereka (berdasarkan Al-Qur’an surah An-Naas).

Beberapa pendapat  tentang kesurupan menurut para ahli psikologi :

1. Prof. Dr. Dadang Hawari, psikiater dari Universitas Indonesia, menjelaskan, kesurupan adalah reaksi kejiwaan yang dinamakan reaksi disosiasi atau reaksi yang mengakibatkan hilangnya kemampuan seseorang untuk menyadari realitas di sekitarnya, yang disebabkan oleh tekanan fisik maupun mental (berlebihan). Tetapi kalau kesurupannya massal, itu melibatkan sugesti. Reaksi disosiasi dapat terjadi secara perorangan atau bersama-sama, saling memengaruhi, dan tidak jarang menimbulkan histeria massal.
2. Prof. Dr. dr. H. Soewadi, MPH, Guru Besar Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada. Dia yakin kesurupan bukan disebabkan oleh masuknya makhluk halus, seperti jin, kuntilanak, atau lainnya. Soewadi memandang tekanan sosial sebagai biang kesurupan. Kesurupan, menurut ahli jiwa ini adalah gejala gangguan jiwa pada seseorang yang diikuti orang lain dan mengakibatkan hilangnya kepribadian yang asli.
3.Sartono Mukadis, pakar Psikologi Universitas Indonesia, munculnya fenomena kesurupan jika dilihat dari sudut pandang psikologi disebabkan oleh faktor labilitas kepribadian. “Yang terkena pada umumnya orang-orang yang labil dan yang mencari pegangan. Anak badung sekali pun biasanya tidak ada yang kena,” kata Sartono, seperti dikutip di detik.com (25/3/2006).
4. Menurut psikolog Setiyo Purwanto, S. Psi, MSi, dalam psikologi fenomena kesurupan itu bisa dijelaskan dalam tiga hal: pertama, keadaan disosiasi, saat seseorang seakan terpisah dari dirinya; kedua, histeria, saat seseorang tidak dapat mengendalikan dirinya, dan ketiga, split personality, saat diri seseorang tampil dengan beragam perilaku yang dimunculkan oleh “pribadi” yang berbeda

Keempat pakar kecuali Sartono Mukadis, menyimpulkan bahwa kesurupan terjadi karena disosiasi. Dan Setiyo Purwanto menambahkannya dengan 2 poin. Dalam hal ini Sartono Mukadis lebih mengarah pada awal terciptanya disosiasi, yaitu Keadaan mental yang labil (labilitas kepribadian).

Penyebab kesurupan adalah masuknnya mahkluk lain dalam jiwa manusia ketika manusia itu lemah. Dapat disimpulkan juga bahwa fenomena kesurupan kadang atau bahkan sering kali merupakan luapan emosi orang yang mengalaminya dalam rangka mengekspresikan suatu beban yang mereka alami baik fisik maupun kejiwaan

Dalam istilah kedokteran kesurupan disebut possession trans atau suatu kondisi trans pemilikan yaitu terdapatnya perubahan tunggal atau episodic keadaan kesadaran sesorang di mana dapat diketahui adanya pergantian identitas pribadi dengan idenditas baru. Contohnya orang tersebut merasa menjadi orang lain yang hidup ratusan tahun yang lalu atau menyebut dirinya mbah dll. Akibatnya, orang tersebut mempunyai perilaku yang asing dan aneh. Perempuan memang relatif gampang terkena kesurupan dan histeria, karena selain faktor emosi yang lebih juga kemungkinan karena ada perbedaan hormonal dengan laki-laki.

Menurut sudut Pandang Islam, fenomena kesurupan dijelaskan Islam sejak awal. Penyebabnya, adalah gangguan jin jahat dan setan. Hanya saja, jin dan setan itu hanya bisa menguasai orang-orang yang tidak percaya atau ragu pada Allah.

Ibnu Taimiyah dalam Majmu Al Fatwa menyebutkan tentang fenomena ini: ”Jin yang masuk dalam tubuh seseorang itu akan menyebabkan dia berbicara dengan kata yang tidak runtut, tak lagi mengenali dirinya, bahkan untuk kasus yang parah, dia bisa membunuh unta tanpa dia sendiri menyadarinya.”

Al qur’an juga menyodorkan fakta tentang kesurupan. Hal ini tersebut dalam surat Al Baqarah ayat 275, ”Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena tekanan penyakit gila...”

Menurut Ustadz Abu Aqila, aktivis Bengkel Rohani, Dalam Al-qur’an surat al Falaq ayat 4 Artinya;

“dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,”

Disebutkan soal keberadaan tukang sihir yang mengembuskan kejahatannya pada uqod atau buhul atau simpil/sarang setan. Nah, pada saat di dalam tubuh ada sarang setan, mereka bisa masuk melalui pembuluh darah karena di situlah letak simpul-simpul setan. Namun, tidak semua pembuluh darah bisa dimasuki setan, kecuali tiga yang sangat sensitif.

Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa tiga titik itu adalah pembuluh darah yang menghidupkan potensi otak kecil manusia. Di titik itu, jika kita sering berpikir berlebihan sehingga tidak kuat menahan, hal itu bisa menimbulkan depresi. Ketika terjadi penegangan dalam pembuluh darah kita, maka melemahkan potensi elektro kita sehingga ada arus listrik dari golongan jin masuk dan mempengaruhi sehingga terjadi kesurupan. Yang kedua, terletak di pembuluh darah yang menghidupkan potensi khayalan. Sama halnya dengan yang pertama, jika itu menegang karena kita terlalu sering mengkhayal maka setan kemungkinan besar bisa masuk. Yang ketiga di pembuluh yang terletak di bawah telinga. Ini bisa menimpa mereka yang malas, kurang kreatif, tidak punya semangat hidup, cemas, dan putus asa.

Namun. yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kasus kesurupan jika ditinjau dari perspektif Psikologi Pendidikan?

Kesurupan adalah sebuah fenomena di mana seseorang berada di luar kendali dari pikirannya sendiri. Beberapa kalangan mengganggap kesurupan disebabkan oleh kekuatan gaib yang merasuk ke dalam jiwa seseorang.

Jika psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji  perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi, dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang di peroleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektifitas proses pendidikan. Maka fenomena kesurupan merupakan gangguan kejiwaan yang mempengaruhi perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan.

Dari kacamata psikologi, pandangan tentang fenomena kesurupan (possession) terbelah dua. Pandangan pertama meyakini kesurupan adalah realita supranatural. Unsur budaya menjadi sesuatu yang sentral dalam perspektif itu. Dengan demikian, keterlibatan para ahli supranatural menjadi keharusan saat menangani individu-individu yang bermasalah dengan elemen supranatural tersebut.

Pandangan kedua sangat diwarnai tilikan ala psikologi belajar. Kesurupan selintas memiliki kemiripan gejala dengan gangguan identitas disosiatif (GID, dissociative identity disorder, dulu dikenal dengan istilah gangguan kepribadian ganda).

Tetapi, dalam perspektif tersebut, penjelasan atas kesurupan maupun GID sama sekali tidak menyertakan kepribadian lain (alters) maupun faktor-faktor tak kasatmata lain.

Kesurupan, sesuai prinsip psikologi belajar, ialah bentuk perilaku terencana yang ditampilkan individu untuk mendapatkan insentif tertentu. Anggaplah, kesurupan adalah reaksi terhadap stres. Kesurupan merupakan teknik untuk mengatasi stres. Kesurupan ialah bentuk katarsis, yakni pembersihan diri dari sampah-sampah psikis

Berdasar pandangan tersebut, kesurupan sesungguhnya menjadi strategi penyesuaian diri terlepas bahwa strategi itu bersifat infantil atau kekanak-kanakan (immature).

Ditarik ke fenomena kesurupan di sekolah, pandangan psikologi belajar memunculkan bahan retrospeksi bagi kalangan pendidik dan orang tua.

Sangat mungkin, kesurupan bertitik awal dari terlalu tingginya beban akademis siswa. Jam pelajaran yang begitu panjang, muatan pelajaran dengan tingkat kesulitan yang tinggi, masa ujian yang menegangkan, gaya mengajar guru, substansi kurikulum yang lebih dominan pada pengolahan daya pikir serta mengesampingkan pentingnya olah rasa, ekspektasi orang tua, serta penambahan jam belajar lewat kursus, dan sejenisnya bisa mempersempit makna aktivitas belajar sebagai sebuah totalitas pengalaman hidup.

Apalagi jika stres di rumah dan lingkungan pergaulan siswa juga dimasukkan, akan semakin dahsyat tekanan psikologis yang harus diatasi para siswa

Faktor usia juga tidak bisa dikesampingkan. Karena rata-rata siswa sekolah menengah berada pada tahap usia remaja yang kerap diidentikkan sebagai masa penuh badai dan tekanan (storm and stress), sesungguhnya para siswa sekolah menengah secara psikologis memang tengah berada dalam kondisi rawan.

Kerasukan di sekolah menjadi peristiwa yang semakin menarik untuk ditelaah lebih jauh karena berlangsung secara masal. Dari berita-berita di media massa diketahui bahwa kebanyakan pelajar yang mengalami kesurupan berjenis perempuan. Dugaan itu didukung kenyataan serupa, berdasar penelitian Gaw, Ding, Levine, dan Gaw (1998) di Tiongkok

Dominannya perempuan pada fenomena kesurupan, kiranya, bisa dijelaskan lewat suggestibility atau kepekaan individu terhadap sugesti. Dengan asumsi perempuan memiliki suggestibility lebih tinggi, mereka pun menjadi lebih mudah tertular kesurupan setelah menyaksikan rekan-rekan mereka yang juga mengalami kesurupan.

Tiga poin penting yang perlu digarisbawahi dari uraian di atas adalah beban akademik, usia anak didik (remaja), dan suggestibility. Ketiganya patut menjadi perhatian para guru, orang tua, serta otoritas penentu kebijakan pendidikan saat mencoba mengatasi epidemi kesurupan di sekolah-sekolah.

Membangun komunikasi yang asertif dan warna interaksi solutif, ditambah dengan upaya membangun karakter anak didik sebagai insan yang bersikap laku positif, adalah agenda ke depan yang perlu disisipkan ke dalam kurikulum pendidikan.

Tanpa menafikan peran agamawan dan penjelasan-penjelasan agamis tentang fenomena kesurupan, perspektif psikologi menghadirkan sebuah pemahaman lebih rasional sekaligus lebih kompleks bahwa penyebab kesurupan anak-anak didik ternyata tidak harus dicari ke alam gaib.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar