Jumat, 06 Januari 2012

Bersuci

Islam adalah agama multi dimensi. dalam bahasa Muhammad bin al Hasan al-Ajwi , Islam mengolaborasikan aspek duniawi dan ukhrawi. islam tidak mengabaikan terhadap aspek lahir ketika mengajarkan urusan batin. Islam tidak mengacuhkan terhadap aspek batin ketika menjelsakan urusan lahir. Demikian juga ketika islam membimbing  manusia dalam masalah individu, kita temukan nuansa sosial yang terselip. Selalu ada pengkaitan antara aspek lahir dan batin, aspek individual, dan sosial dalam setiap ajarannya.  Dia antara ajaran yang memiliki ciri keterkaitan aspek lahir dan aspek batin, aspek individual, dan sosial dalam islam adalah masalah kebersihan.

Islam adalah agama yang sangat peduli terhadap masalah kebersihan. ini dibuktikan dengan diwajibkannya membersihkan diri sebelum melaksanakan ibadah shalat. dalam hampir semua buku-buku tentang fiqh karangan ulama abad pertengahan, pembahasan senantiasa diawali dengan masalah kebersihan atau sering kita kenal dengan istilah Thaharah.

Di sini, kebersihan yang sebenarnya tidak memiliki nilai ibadah, akan tetapi jika ditarik dalam wilayah Ubudiyah (Ibadah) maka praktek kebersihan tidak terpisahkan dari praktik keagamaan itu sendiri. walaupun pada awalnya kebersihan diproyeksikan untuk mendukung keabsahan shalat, banyak hadirs Nabi yang telah memperluas pemaknaan dari kebersihan. Bukan hanya dalam ranah ibadah saja, namun juga dalam konteks menjaga kebersihan dalam aktifitas sehari-hari dan kebersihan untuk menjaga ketertiban sosial.

Dengan dilandasi dalil-dalil teologis-keagamaan, Islam telah memproklamasikan diri sebagai agama yang menjadikan aktifitas menjaga kebersihan sebagai salah satu ajaran resminya. Pada akhirnya, hal ini menjadi bukti atas fakta bahwa dalam sejarah panjang umat manusia, islam adalah satu-satunya agama yang memilki perhatian besar terhadap kebersihan, diawali dengan menjadikan masalah kebersihan sebagai pondasi bagi tiangnya.

Setelah Islam berusaha menggaet praktek membersihkan diri ke dalam ranah privat (manajat li ar-rabb) lalu untuk apa Allah begitu memperhatikan aspek kebersihan ini? Adakah rahasia dibalik itu?

 

1 komentar:

  1. [...] dianalogikan dengan air. Asy-Sya’rani2 menegaskan bahwa sebagian besar ulama’bersepakat bahwa bersuci  tidak sah tanpa menggunakan air. Kotoran najis juga tidak hilang, kecuali dengan menggunakan [...]

    BalasHapus