Kamis, 12 Januari 2012

Nasihat Bukan Pada Tempatnya

NASIHAT BUKAN PADA TEMPATNYA

Orang yang menasihati penguasa ibarat bercanda dengan singa. Sebagian penasihat dan dai mendengar bahwa Al-Fudhail bin Iyadh menasihati Harun Ar-Rasyid dan Sufyan Ats-Tsaury menasihati Abu Ja’far al-Mansur. Maka mereka ingin melakukan apa yang dilakukan para salaf terhadap penguasa, mereka lupa bahwa para penguasa itu bukanlah seperti Abu Ja’far al-Mnsur  dan Harun Ar-Rasyid. Semoga Allah merahmati orang-orang yang mengetahui kemampuan dirinya. Penguasa tidak menerima nasihat di depan orang-orang banyak, karena hal itu akan mematahkan kehormatannya, sedangkan dia tidak mungkin menyendiri dengannya. Kita mendengar bahwa orang yang ingin menasihati penguasa, maka dia harus memujinya dan memuliakannya terlebih dahulu, kemudian meyindir sedikit degan nasihat, maka kepahitan nasihat akan hilang dengan kemanisannya dan dia tidak pernah selamat dengan kematiannya. Di antara mereka ada yang berhubungan dengan dengan tujuan menasihatinya—dalam dugaannya—, dia mengakhirkan nasihat sampai ilmu dan persahabatan terjalin erat, kemudian dia menjadi salah satu petingginya, dan lupa dengan nasihat dan peringatan. Segala puji bagi Allah atas segala sesuatu, janganlah anda membebani diri, sesungguhnya menghilangkan mafsadah lebih utama dari membawa kemaslahatan. Ketahuilah bahwa penasihat masa kini, kurang keikhlasannya atau keilmuannya atau ilmunya atau hikmahnya atau pengetahuannya tentang tabiat penguasa, sehingga banyak dai terperosok ke dalam kesengsaraan. Janganlah sampai menipu, perkataan anda sebagai penasihat. Sesungguhnya mereka menasihati penguasa dan penguasa menerimanya. Ini disebabkan dia menggoyangkan kepalanya ketika mereka berbicara, maka mereka menduga bahwa dia menerima apa yang dikatakannya. Ketahuilah bahwa, para penguasa sebagian besar memiliki tipuan dan maker. Setelah menasihati, maka penasihat yang lugu menduga bahwa dia berhasil menarik pemikiran-pemikiran mereka dengan perkataannya. Ini adlah tipuan iblis. Tidaklah kita mendapati seorang alim yang bergabung dengan penguasa dan menjadi salah seorang petingginya, kecuali hilangnya cahaya ilmu, kewibawaan agam, dan kemuliaan wara’. Sejarah menjadi saksi akan hal itu. Wallahu A’lam…….

 

Daftar Pustaka

Dr. Aidh al-Qarni. 2008. Isy Kariman. Banguntapan Jogjakarta: DIVA Press

Tidak ada komentar:

Posting Komentar